Creative Commons License
Pagikotaku by Nunuwseorang is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.
Based on a work at pagikotaku@blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at pagikotaku@gmail.com.

Jumat, 07 Oktober 2011

Makam yang Terlupakan : Memoar Ulang Tahun Bandung

Beberapa waktu lalu, Bandung dengan gilang gemilang berulang tahun. Keramaian tercipta di sana-sini demi mengingatkan tanggal kepindahan pusat pemerintahan kabupaten Bandung dari Dayeuh Kolot ke alun-alun Bandung Sekarang pada 25 September 1810 lampau.

Alun-alun Bandung adalah tempat yang identik dengan kepadatan sekaligus keramaian. Puluhan toko-toko bercampur dengan keriuhan pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor adalah pemandangan sehari-hari yang terlihat di kawasan ini. Kesan sedikit kumuh menempel pula di lokasi yang juga merupakan salah satu wilayah terpadat di ibukota provinsi Jawa Barat tersebut. Namun mungkin tak banyak yang tahu bahwa dibalik hingar bingar alun-alun tersebut, terdapat sebuah kompleks pemakaman yang layak disebut sebagai salah satu tempat bersejarah yang dimiliki oleh Bandung. Silakan klik untuk membaca lanjutannya :)

Jumat, 29 Juli 2011

Mengkritik Kebodohan Membongkar Keburukan

Puluhan lukisan itu terhampar dengan begitu saja dan semena-mena di galeri Soemardja ITB. Jujur, saya sedikit bingung harus mengamati dan memulai darimana. Pameran karya Nandanggawe bertajuk “Ugliness (gambar-gambar kritis Nandanggawe)” ini memang menyajikan lukisan yang tak biasa-biasa saja. Kata “Ugliness” yang diangkat merupakan kontradiktif dari keindahan yang kerap disandingkan pada karya seni dan sekaligus pula menjadikan karya-karya seniman lulusan STSI ini menjadi tidak biasa.

Sepertinya, bagi Nandanggawe, lukisan adalah bentuk lain dari realitas yang selama ini dianggap biasa-biasa saja atau sudah menjadi kewajaran bagi publik. Lukisan-lukisannya lalu melanglang buana menembus batas-batas kewajaran yang pada hakikinya tidaklah wajar. Hal-hal kecil kemudian menjadi menarik dalam lukisan-lukisan yang dipaparkannya. Lukisan tersebut kemudian menjadi semacam realitas yang menyeruak di pasar-pasar, di gang-gang sempit, serta tempat-tempat lainnya yang sangat mungkin kita lihat berkali-kali dalam sehari sehingga ia menjadi tak terperhatikan dan kehilangan urgensivitas. Silakan klik untuk membaca lanjutannya :)

Jumat, 22 Juli 2011

Jakarta-Bandung Pulang Pergi: Terminal Keberangkatan dan Kepergian


CCF Bandung 19 Juli 2011. Menjelang pukul setengah sembilan malam. Saya agak terlambat, tapi tak apalah. Keramaian itu, toh,  masih menggila. “Jakarta Bandung Pulang Pergi”, pameran yang digagas 10 seniman itu, memang agak-agak bernuansa romantis dari sisi tematik yang diangkatnya. Romansa memang kerap dihadirkan pada berbagai perwujudan: Marah, kesal, masa lalu, umpatan, kerumitan, dan berbagai frasa lainnya yang mungkin bernuansa agak-agak personal. 


Memasuki ruang pameran, karya Ritchie Ned Hansel yang bertajuk “There’s a Light Never Goes Out” menangkap mata saya dengan begitu memabukkan. Lampu neon ungu bertuliskan “Trap” menjadi sebuah kata yang cukup tegas menggambarkan bagaimana romantisme ala Jakarta-Bandung tercipta. Hubungan benci tapi rindu meski disematkan pada karya yang satu ini jikalah mungkin kata-kata simbiosis mutualisme materi terlalu kasar diujarkan.Silakan klik untuk membaca lanjutannya :)

Kamis, 30 Juni 2011

Bangklung dan Ketuaannya yang Mencoba Beranjak Muda


Para lelaki itu satu persatu memasuki gelanggang pertunjukan. Tangan mereka menggenggam alat musiknya masing-masing dengan erat. Sebagian ada yang memegang rebana, lainnya ada yang memegang angklung dan calung, salah satu diantara mereka ada pula yang bersiap untuk memainkan terompet tradisional Sunda yang umumnya digunakan sebagai alat musik pengiring pada seni Penca (Pencak Silat).


Tak lama, suara khas pukulan rebana yang ditimpali dengan perpaduan angklung dan calung serta terompet yang bertindak sebagai pemegang melodi mengalun. Para pemain angklung dan calung memainkan bambu ditangannya sembari berjoget memutari para pemain rebana. Seorang penyanyi Beluk kemudian menembangkan kalimat syahadat dan juga shalawat. Silakan klik untuk membaca lanjutannya :)

Jumat, 20 Mei 2011

Hujan dan tanah basah. Dua kali Crafty Days yang saya hadiri, dua kali pula hujan dan tanah basah saya temui mengharum menjadi satu dengan barisan meja para crafter dan pengunjung yang membaur. 


Terus terang, saya bukanlah crafter. Belajar merajut tingkat dasar pun saya selalu merasa kesulitan. Satu-satunya keahlian yang saya miliki berhubungan dengan dunia craft adalah merecoki Upi dan rajutannya, mengganggu Mayang atau Dini yang sedang asoy geboy di meja kasir, menggoda Moel yang asyik berkarya, atau manggut-manggut mendengar Erri berbicara tentang dunia desain. Kadangkala, Mbak Tarlen yang sedang tekun memotong-motong kertas pun saya hampiri hanya untuk menyampaikan gosip-gosip setempat nan memabukkan. Lalu, apa hubungannya Crafty Days dengan saya yang bukan crafter ini? Ah, mari beranalogi sok-sok filosofis sejenak. Jika hujan dan tanah menjadi perpaduan maha sempurna ketika mereka bertemu, mungkin begitulah yang saya rasakan ketika menemui Crafty Days. Silakan klik untuk membaca lanjutannya :)